LDII Pidie Aceh Gelar Pengajian Diisi dengan Sosialisasi Pencegahan Covid-19

LDII Pidie Aceh Gelar Pengajian Diisi dengan Sosialisasi Pencegahan Covid-19

- in Berita Daerah, Kegiatan LDII
256
0
dr. Noura.

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Pidie, Aceh, menggelar pengajian umum yang berlangsung di aula gedung SMK 2, jalan Lingkar Keuniree, Desa Blang Asan, Kecamatan Sigli, Pidie, Minggu, (22/08/2021).

Kegiatan ini dihadiri 150 peserta warga LDII, pria dan wanita baik yang berdomisili di daerah setempat maupun dari luar daerah.

Rangkaian acara diawali pembacaan ayat suci Alquran oleh Ustadz Fakhruddin. Sedangkan tafsir Alhadist disampaikan oleh Ustadz Rismal. Kemudian dilanjutkan paparan materi tentang pencegahan covid-19 oleh dr.Noura.

Ketua DPD LDII Kabupaten Pidie Yudi, mengatakan, kegiatan ini salah satu bentuk upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan terlebih di masa pandemi sekarang ini.

“Supaya warga tertib dan lancar beribadah dan mengaji, selain imun yg meningkat, iman juga harus dikuatkan agar bisa sabar dalam menghadapi cobaan pandemi covid-19,” katanya.

Yudi menyampaikan kegiatan pengajian ini digelar dengan menerapkan protokol kesehatan covid-19 secara ketat.

“Mulai masuk gedung dicek suhu tubuh, disediakan tempat cuci tangan, memakai masker dan di dalam gedung tempat duduknya diatur untuk jaga jarak,” ujarnya.

Yudi menuturkan, selain mengaji Alquran dan Alhadist, acara ini juga akan diisi dengan penyampaian sosialisasi pencegahan dan penanganan Covid-19.

“Sebagai wujud dukungan kepada pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19, diharapkan warga LDII memiliki ilmu pengetahuan yang cukup tentang Covid-19,” tuturnya.

Sementara itu, dr. Noura dalam materi paparannya tentang pencegahan covid-19 menjelaskan, bahwa virus bukan benda mati, bukan makluk hidup, dan virus hanya bisa hidup menempel pada inangnya yakni sel manusia.

“Walaupun dia bisa menginfeksi makhluk hidup, dia itu bukan makhluk hidup, tapi juga bukan benda mati, bukan makhluk ghaib juga seperti jin, dia itu seperti mikroba, makhluk yang bisa dilihat dengan alat, tidak bisa terlihat secara kasat mata, dia tidak berkembang biak, tidak beranak pinak, tapi dia memperbanyak diri, dia bereplikasi, mengkopi badannya sendiri, dari satu hingga jutaan, dan dia bisa bereplikasi kalau dia nempel ke inang badan kita,” jelasnya.

“Kalau selembar kertas diletakan di atas meja, ya tetap aja satu lembar, sampai kapanpun tetap satu lembar, tapi kalau dimasukan ke mesin fotocopy, dia bisa jadi dua lembar, puluhan lembar, bahkan ribuan lembar, begitu juga dengan virus, anggaplah kertas ini sebagai virus, mesin fotocopy sebagai badan kita,” lanjutnya.

dr. Noura menjelaskan mengenai transmisi atau penularan virus bisa terjadi melalui dua macam, “melalui droplet, yaitu percikan dari air liur ataupun cairan-cairan, saat kita bersin, batuk, bernafas, atau kita terpapar, disitulah kita mengandung virus kemudian menularkan ke orang lain,” ujarnya.

Mode lain penyebaran virus lanjut dr. Noura lewat airborne “yaitu penyebaran melalui udara, contohnya seperti virus cacar, virus TBC, campak,” imbuhnya.

“Penyebaran virus itu bisa langsung (droplet) atau tidak langsung, karena virusnya nempel di benda seperti kursi, baju, digagang pintu, kemudian melalui airborne,” ujarnya.

Ia menerangkan upaya pencegahan untuk meminimalisir transmisi penularan virus, “Membatasi kapasitas orang dalam ruangan, sirkulasi udara harus bagus, dan tetap harus memakai masker yang sesuai dengan standar,” terangnya.

“Masker dipakai maksimal 4 sampai 6 jam saja, dan harus dibuang, diganti dengan yang baru dan bersih,” ujarnya.

Ia menjelaskan masalah isolasi mandiri, menurutnya, lama isolasi mandiri 2-14 hari bagi orang yang terpapar virus atau saat masa inkubasi dimana virus sudah menempel di tubuh manusia.

“Saat virus menempel ke badan kita hingga menimbulkan gejala yaitu 2-14 hari, maka jika kita merasa kontak erat dengan pasien yang positif, kita harus isolasi mandiri 10-14 hari, artinya, jangan-jangan virus ini sudah ada di badan kita, kita akan menunggu virus ini akan bergejala atau tidak, kalau sudah 14 hari, tidak bergejala berarti aman, berarti virusnya sudah mati, karena imun kita bagus, maka tidak menimbulkan gejala,”

“Protokol isolasi mandiri yaitu tidak beraktifitas di luar rumah, tidak menerima tamu atau bertamu ke rumah orang lain, hindari kontak erat dengan orang,” jelasnya.

Mengenai masalah vaksin, lanjut dr. Noura, terlalu banyak isu hoaks atau berita bohong yang beredar di media sosial tentang vaksin sehingga membuat masyarakat takut disuntik vaksin.

Menurutnya, vaksin itu kuman atau virus yang dilemahkan atau dimatikan yang dimasukan ke dalam tubuh agar terbentuk imun.

“Badan kita ini diibaratkan negara, si virus ini musuh, di setiap negara ada pertahanan, di setiap badan ada yang namanya imun, pertahanan kesehatan, itulah tentara, tentara di badan kita itulah imun kita,”

“Setidaknya setelah divaksin, badan kita mengenali virus dan memiliki kemampuan untuk melawan virus, kalau belum divaksin, kemudian terpapar virus, mungkin gejalanya berat, kalau sudah divaksin, mungkin tidak bergejala atau bergejala ringan,” ujarnya.

dr. Noura menambahkan, sekarang ini banyak orang yang stres dalam menghadapi pandami Covid-19, menurutnya, orang terbagi menjadi dua kelompok yaitu orang yang terlalu stress dan yang tidak terlalu peduli dengan Covid-19.

“Mungkin itu disebabkan karena pengetahuan, kita harus bijaksana, jangan terlalu lebai, tapi terlalu abai, kemudian jangan terlalu termakan dengan isu hoaks, banyak artikel atau berita di media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,”

“Kita sebagai manusia harus berusaha ikhtiar, berdoa kepada Allah, kita mengetahui ilmunya tinggal kita terapkan, kalaupun kita terpapar, kita pasrahkan kepada Allah, itulah qadar, semoga kita diberikan kesehatan,” tutupnya. (m)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *