Istidraj dari Allah

Istidraj dari Allah

- in Nasehat Agama
665
0
www.greenhatworld.com

LdiiAceh.org – Rezeki telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi setiap hamba-hamba-Nya. Apa yang sudah dijatahkan rezeki kepada seseorang hampir dipastikan tidak akan berpindah ke tangan orang lain dan juga tidaklah berkurang sedikit pun. Sepanjang hidupnya akan terus menerimanya secara utuh sebelum ajal menemuinya.

Rezeki menurut sebagaian manusia selalu diidentikan dengan harta kekayaan, namuan sejatinya rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi kesehatan, waktu longgar, dan semua nikmat Allah baik yang samar maupun terang-terangan, besar kecil, itulah nikmat rezeki. Dan rezeki berupa rasa cukup (kaya hati) itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak berbahaya kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Namun kaya hati (merasa cukup dengan nikmah Allah) itu lebih baik daripada kaya materi bagi yang bertaqwa. Kekayaan hati adalah sebagaian dari nikmat Allah.” (HR Ahmad).

Oleh karena itu, janganlah karena harta lantas mengorbankan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga dibanding harta duniawi. Namun, tidak jarang orang mengorbankan agama, keimanan dan kebaikan hati, hanya karena mendapat harta dunia dengan melalaikan akhiratnya.

Dengan kurangnya harta duniawi jangan sampai membuat kita lupa bersyukur kepada-Nya, atas segala nikmat dan karunia yang jauh lebih bernilai daripada harta kekayaan. Dan hendaklah kita menjadikan kekayaan ini sebagai ladang mencari pahala lewat infak dan sedekah di jalan Allah SWT.

Jangan merasa minder dengan kekurangan harta yang kita miliki. Jika kita melihat seseorang memiliki kekayaan yang tak terkira banyaknya namun kesehariannya diliputi dengan dosa dan kemaksiatan. Kita perlu waspada bahwa hal tersebut merupakan bagian dari istidraj.

Ingat Rasulullah pernah bersabda, “Jika Allah memberi harta kekayaan dunia kepada seorang hamba, padahal dia terus melakukan kemaksiatan kepada-Nya, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut adalah istidraj dari Allah (dibiarkan berbuat kemaksiatan lewat harta).” (HR Ahmad).

Tatkala seseorang dibiarkan berbuat kemaksiatan dengan harta kekayaan yang ia miliki, semakin bertambah dan dimudahkan segala sesuatunya, sehingga mereka lupa bahwa itu merupakan cobaan nikmat.

Allah SWT berfirman, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS al-An’am : 44).

Demikian pula sebaliknya, apabila kita melihat seorang hamba yang konsisten melaksanakan perintah ketaatan kepada Allah SWT, lalu rezekinya biasa-biasa saja, ketahuilah bahwa Allah memiliki rencana lain yaitu memberikan kepada hamba tersebut suatu nikmat yang jauh lebih berharga dan sempurna (surga) daripada nikmat sesaat (dunia).

Semoga Allah senantiasa membimbing kita agar menjadi seorang hamba yang selalu merasa cukup dengan nikmat, seberapapun nilainya. Dan terus bisa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah hingga akhir hayat. Aamiin. [Mkn].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *