Berkuasa, Ingat di Atas Ada Langit

Berkuasa, Ingat di Atas Ada Langit

- in Nasehat Agama
534
0

LdiiAceh.org – Orang yang beriman tentu akan sadar bahwa dirinya adalah mahkluk yang tak berdaya lagi lemah, membutuhkan kekuatan dan rahmat Allah, dan selalu takut kepada siksa-Nya bila menyakiti orang lain. Orang yang beriman sangat bisa menjaga dirinya dari sifat sombong diri terhadap kekuatan fisik yang dimilikinya, kecerdasan, harta dan jabatannya.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman artinya, “Apakah manusia menyangka bahwa tidak ada sesuatu apapun yang berkuasa atasnya?” (QS: Al-Balad:5)

Perlu mengingatkan kembali bahwa Allah maha berkuasa untuk melakukan apa saja termasuk mencabut nikmat sehat dari hamba-Nya. Misal, ada seorang yang sedang bekerja tiba-tiba terjatuh dan sakit lumpuh. Ada orang yang sakit parah sehingga dokter menyarankannya tidak memakan apapun kecuali lewat infus.

Seorang yang bergelar dan berpangkat tinggi sekalipun, bila Allah menghendaki sewaktu-waktu mencabut kecerdasannya dengan hilang ingatan atau menjadi gila, semoga Allah senantiasa melindungi kita dari hilangnya nikmat. Begitu pula dengan harta kekayaan yang dipunyai manusia, tidaklah abadi dan kekal, hanya sementara sifatnya, dengan mudah Allah berkuasa untuk mencabut nikmat harta dari hamba-Nya dan seketika itu juga dia menjadi orang bangkrut, pailit, terlilit hutang banyak, dan jatuh pada kemiskinan.

Dalam sebuah riwayat hadist dijelaskan suatu ketika Abu Mas’ud berkata, “Aku pernah menghajar budakku dengan cambuk, lalu tiba-tiba terdengar suara dibelakangku, ‘Ketahuilah wahai Abu Mas’ud!’ Namun aku tidak memperhatikan suara tersebut karena marahku mengalahkan perhatianku.”

“Ketika suara itu semakin mendekat, betapa kagetnya Aku, ternyata beliau Rasulullah saw. Lantas Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Mas’ud! “Wahai Abu Mas’ud!” Abu Mas’ud berkata, “Kemudian, dengan cepat aku melemparkan cambuk dari tanganku.”

Lanjut Rasulullah saw dalam sabdanya, “Wahai Abu Mas’ud ketahuilah, bahwa Allah itu lebih kuasa atas dirimu daripada kuasamu atas budakmu ini.” Lalu Abu Mas’ud berkata, “Aku tidak akan memukul budakku lagi setelah itu. (HR Muslim)

Pengertian ayat dan hadist diatas menunjukkan, jika ia seorang atasan sedang berkuasa atau majikan, dia tidak akan berbuat zalim kepada bawahan dan karyawannya. Jika ia sesosok suami, ia tidak akan menyakiti istrinya. Dan jika dia seorang penguasa, dia tidak akan berprilaku sombong, arogan dan menzalimi rakyatnya.

Seorang penguasa adalah orang yang dituakan diantara manusia yang bersikap kasih sayang kepada rakyat. Apabila penguasa membaca dan merenungi ayat dan hadis di atas dia akan sadar bahwasannya kekuasaan hanyalah amanat semata. Kekuasan atau jabatan suatu saat akan lenyap tanpa kita ketahui kejadiannya. Sementara dampak perbuatan zalimnya akan abadi ia rasakan, kecuali ia berniat taubat.

Jika Allah membiarkannya dalam kezaliman itu tandanya Allah sedang membiarkannya dalam kedurhakaan. Termasuk hukuman dari Allah kepada hamba-Nya ketika ia mengira kezaliman yang dilakukannya sebagai suatu kebaikan dan kebaikan yang diingkarinya dianggap sebagai suatu kezaliman.

Semoga Allah selalu memperlihatkan kebaikan kepada kita sebagai kebaikan yang hakiki. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita suatu kemampuan untuk menjalankannya. Semoga Allah menjauhkan kezaliman dan semoga Allah memberi kekuatan kepada kami untuk melawannya. Aamiin. [Mukmin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *