Kembali Suci, Setelah Bulan Ramadhan

Kembali Suci, Setelah Bulan Ramadhan

- in Nasehat Agama
228
0
Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Bulan Ramadhan telah lewat meninggalkan manusia sebagai hamba yang lemah dan mudah lupa lagi khilaf. Banyak amalan yang telah dikerjakan di bulan Ramadhan sekiranya dapat menggugah semangat diri dalam beribadah meskipun di luar bulan Ramadhan. Menjalani aktivifas sehari-hari tetap berada dalam koridor ridha Allah SWT dan Rasulullah saw.

Selain itu, Ramadhan yang belum lama ini kita tinggalkan hendaknya menjadi bahan evaluasi ibadah. Sebagai hamba Allah yang harus kembali mempertahankan keimanan dan ketaqwaaan yang sempat mengalami peningkatan yang cukup drastis selama di bulan Ramadhan.

Karena pada umumnya ketaqwaan manusia ketika di luar Ramadhan sepertinya sulit untuk meningkat, sangat mudah jatuh dan terpuruk ke titik yang paling rendah. Bagaimana tidak? Pengaruh lingkungan yang tidak Islami, para pelaku dosa, tukang ghibah (gosip), dan maksiat kembali beroperasi baik di siang maupun di malam hari, tak henti-henti menggoda seakan tak sadar diri menjadi budak setan.

Acara ceramah, pengajian dan tontonan islami yang begitu banyak di tayangkan di berbagai media sebagai salah satu media peningkatan keimanan kini nyaris hilang, suasana ibadah di mesjid saat ini tidak lagi semarak, bahkan nyaris hilang.

Selain itu, hubungan antar agama yang mudah kendur, rentan terpecah belah, serta kedamaian gampang diganggu karena hawa nafsu, mudah terprovokasi, tidak ada yang mengingatkan lagi dengan kata-kata ana shooimun (saya berpuasa). Hanya hamba Allah yang suci yang dapat menjaga ketakwaannya, bukan hanya untuk kepentingan pribadinya tetapi untuk masyarakat lainnya. Siapakah hamba Allah yang fitrah ini?

Para penasehat agama menjelaskan tentang hamba-hamba Allah yang fitrah ini dikaitkan dengan ukhuwah dan kedamaian. Dijelaskan bahwa kembali pada fitri (suci) setelah sebulan penuh beribadah puasa di bulan Ramadhan bersumber dari ayat Alquran surat Ar-Rum ayat 30 yang artinya:

“Maka hadapkanlah dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menjadikan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Jadi setiap muslim dan muslimat tetap harus menjadi konsistensi keimanan dan ketakwaannya walaupun di luar bulan Ramadhan. Harus tetap menegakkan lurus agamanya Allah dengan setegak-tegaknya. Walaupun terkadang banyak sekali gangguan dan godaan yang datang silih berganti mencoba untuk menggoyahkan keimanan kita.(Mkn)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *