FGD Ketahanan Pangan dan Pertanian: Wujud Kerjasama Pemerintah dan LDII Untuk Bangsa

FGD Ketahanan Pangan dan Pertanian: Wujud Kerjasama Pemerintah dan LDII Untuk Bangsa

- in Berita LDII
20
0

FGD Ketahanan Pangan

Jakarta (29/08) – DPP LDII bekerja sama dengan komisi IV DPR RI menggelar acara Focus Grup Discussion (FGD) Ketahanan Pangan dan Pertanian. Acara tersebut dilaksanakan di gedung DPP LDII, Patal Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (29/08).

Dengan mengusung tema ‘Menggali Potensi Guna Mewujudkan Kedaulatan Pangan’, acara ini menjadi salah satu bentuk kepedulian LDII terhadap Indonesia, terutama dalam urusan lingkungan, ketahanan pangan, dan pertanian.

Ketua Umum DPP LDII, Abdullah Syam menuturkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati baik tanaman maupun spesies hewan yang harus dijaga. “Perlu diketahui bahwa pembakaran hutan tidak saja mengakibatkan polusi udara, tapi juga merusak ekosistem dan keragaman hayati di daerah tersebut,” paparnya.

Yosep Umar Hadi, dari Komisi V DPR RI menjelaskan pentingnya merevitalisasi pertanian untuk mengerem laju impor bahan pangan dan keamanan pangan (food security). Menurutnya sebagai negara agraris, Indonesia harus memberikan perhatian lebih besar dalam rangka merevitalisasi sektor pertanian, diantaranya adalah perbaikan irigasi sektor pertanian.

“Revitalisasi dan pembangunan irigasi harus terus dilakukan dan berkelanjutan untuk membangun dasar negara agraris, dan keamanan pangan yang sangat penting di era global yang sangat kompetitif,” ujarnya. Permasalahan SDM yang kurang memadai juga menjadi pembahasan dalam diskusi ini. Rendahnya tingkatpendidikan para petani dan kurangnya minat anak muda untuk terjun dalam dunia pertanian membuat SDM yang berkecimpung dalam dunia ini sangat langka.

Mindo Sianipar, dari komisi IV DPR memaparkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik tahun 2010 menunjukkan bahwa hanya 0,57% pelaku utama pembangunan pertanian Indonesia yang berasal dari Perguruan Tinggi dari 39.000.000 orang.

“Dari komposisi umur,62% petani kita usianya lebih dari 45 tahun.Sedangkan hanya 12% yang ada pada usia produktif,” paparnya.

Masalah mafia pertanian, tingkat kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, kesejahteraan dan kerusakan lingkungan yang semakin hari tampak semakin parah juga menjadi masalah pertanian. Padahal potensi pertanian mempunyai peran yang besar dalam menopang perekonomian Indonesia.

“Yang jadi masalah adalah banyak kebijakan-kebijakan yang disalahartikan/disalahgunakan oknum-oknum tertentu yang hanya memperdulikan kantong pribadi dengan mengesampingkan keberlangsungan hidup hayati,” ujar Abdullah Syam.

Kerjasama LDII dan DPR RI dalam urusan Ketahanan Pangan dan Pertanian ini juga sebagai wujud keseriusan LDII untuk Bangsa Indonesia yang termaksud dalam hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII tahun 2018 dalam sektor pertanian dan lingkungan.

Abdullah Syam berharap, baik pemerintah dan LDII dapat terus berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dan media sebagai mitra pemerintah dan juga mitra LDII turut membantu mensosialisasikan pentingnya pelestarian hayati dan turut mengawal kebijakan-kebijakan yang melindungi keberlangsungan hidup keragaman hayati di Indonesia.(laras/lines)

Sumber

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *